Persiapan Migrasi Siaran TV dari Analog ke Digital

analog-tv-digital

 215 total views

Seperti yang telah diketahui bersama, bahwa migrasi siaran tv dari analog ke digital sempat tertunda beberapa tahun belakangan, namun kini hal tersebut ditargetkan lagi bakal rampung 20 bulan kedepan. Hal ini tentu membuat Kementerian Komunikasi dan Informatika harus bekerja lebih ekstra lagi mengingat target ini harus rampung dengan waktu yang cukup singkat.

Lantas, apa saja yang sudah dipersiapkan oleh Kementerian Komunikasi dan Informatika dalam menjalankan tugasnya tersebut? Berikut ini akan dirangkumkan penjelasannya untuk Anda.

Operator Multipleksing

Johnny G. Plate selaku ketua dari Menteri Komunikasi dan Informatika mengatakan bahwa pihaknya akan melibatkan lembaga penyiaran swasta atau yang biasa disebut dengan LPS ini untuk menyediakan infrastruktur multipleksing.

Dengan adanya kebijakan ini, Lembaga Penyiaran Swasta atau LPS sudah tidak perlu lagi mempersiapkan investasi di bidang infrastruktur. Hal ini dikarenakan pihak Kementerian Komunikasi dan Informatika maupun pihak Lembaga Penyiaran Swasta atau LPS ini bisa menyewa kepada pihak penyedia multipleksing.

Kebijakan terkait dengan berbagai infrastruktur multipleksing ini sudah diatur dalam Peraturan Pemerintah Nomor 46 tahun 2021 tentang Pos, Telekomunikasi, dan Penyiaran.

Namun sayangnya, pihak Lembaga Penyiaran Swasta atau LPS ini baru membangun di 12 provinsi saja. Adapun seperti Lembaga Penyiaran Publik atau LPP TVRI yang telah memiliki infrastruktur di 36 provinsi. Namun, jumlah tersebut masih dikhawatirkan kurang karena banyaknya jumlah Lembaga Penyiaran Swasta atau LPS saat ini.

Nah, 22 provinsi yang masih membutuhkan infrastruktur multipleksing swasta diantaranya adalah Jambi, Sulawesi (Utara, Tengah, Barat, Selatan, dan Tenggara), Kalimantan (Barat, dan Tengah), Sumatera (Barat, dan Selatan), Riau, Bengkulu, Lampung, Maluku, Maluku Utara, Bali, Papua, Papua Barat, Nusa Tenggara (Barat, dan Timur), Bangka Belitung, dan terakhir adalah Gorontalo.

Set Top Box atau Dekoder

How a set-top box TV decoder works - Dignited

Set Top Box atau Decoder merupakan alat yang berisikan perangkat dekoder yang berfungsi untuk mengatur saluran televisi yang berisikan siaran tv dari analog ke digital yang nantinya akan diterima, kemudian bisa Anda pilih sesuai dengan kebutuhan Anda.

Set Top Box atau Decoder ini sangat dibutuhkan untuk membantu televisi dalam mengakses saluran dari siaran digital. Namun, hingga saat ini banyak dari masyarakat yang masih belum memiliki Set Top Box atau STB ini, sehingga sangat dikhawatirkan jika tidak mendapatkan akses dari program siaran digital ketika dipadamkan nantinya.

Kementerian Komunikasi dan Informatika beserta dengan Asosiasi Televisi Swasta Indonesia tidak sependapat soal jumlah kepala keluarga yang belum memiliki Set Top Box ini. Melansir dari data BPS, Kemenkominfo menilai bahwa jumlah dari warga yang kurang mampu (tidak bisa membeli STB) sebanyak 6,7 juta kepala keluarga.

Sementara untuk ATVSI sendiri menilai bahwa jumlah dari kepala keluarga yang belum memiliki STB sejumlah lima kali lipat lebih besar dari yang sudah disebutkan oleh Kemenkominfo.

Nah, dari jumlah tersebut, para penyelenggara multipleksing dari LPS yang tersebar di 12 provinsi ini menyanggupi untuk memberikan 8,7 juta STB. Artinya adalah dimana akan terdapat sekitar 26 juta lebih kepala keluarga yang berpotensi tidak memiliki STB, terlebih ketika ASO (Analog Switch Off) mulai diberlakukan pada November 2022 mendatang.

Sosialisasi

Meskipun siaran digital bukanlah hal baru, namun Indonesia sendiri merupakan salah satu negara yang baru pertama kali menggunakannya. Perlu Anda ketahui juga bahwa di Asia Tenggara, Indonesia menjadi salah satu dari tiga negara yang belum menggelar siaran digital. Hal ini dikarenakan kurangnya sosialisasi yang dilakukan sehingga masyarakat pun tidak memahami siaran tv dari analog ke digital lebih memiliki kualitas yang bagus.  

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *